strategi pelaksanaan keperawatan jiwa

11 03 2012

CONTOH STRATEGI PELAKSANAAN

TINDAKAN KEPERAWATAN JIWA PADA KELUARGA

(SP KELUARGA)

 

  • Masalah           :Gangguan Sensori Persepsi Halusinasi (Pendengar)
  • Pertemuan       :ke 5 (Lima)

 

  1. PROSES KEPERAWATAN
  2. Kondisi :
    1. Pasien:

Pasien telah mengetahui beberapa cara untuk melawan halusinasi,pasien berada di ruang tidur pasien, mengenakan baju rapi sedang duduk tenang.

  1. Keluarga:

Keluaga belum belum mengetahui cara merawat pasien saat halusinasinya muncul,keluaga berada diruangan menunggui anaknya.

  1. Diagnosa:Resiko mencederai diri , lingkungan dan orang lain b/d ganguan sensori persepsi :Halusinasi
  2. TUK:

Keluarga dapat terlibat dalam merawat pasien baik di rumah sakit maupun dirumah.

5.1.Keluarga mampu mengidentifikasi maslah keluarga dalam merawat pasien

5.2.menjelaskan proses terjadinya hakusinasi

5.3.menjelaskan cara merawat pasien.

5.4.menyusun jadwal keluarga untuk merawat pasien

B.STATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP)

            Pada suat hari tepatnya hari minggu jam 9 pagi dirumah sakit jiwa Lawang terlihat seorng bapak dan ibu sedang menunngui anaknya yang mengalami gannguan halusinasi di ruang kamar pasien.

  1. Orientasi
    1. salam terapeutik

perawat:assalamu’alaikum bapak/ibu

Bapak & ibu: wa’alaikum salam sus…

Perawat: saya perwat dina,saya yang merwat anak bapak dan Ibu

Bapak: iya sus…

 

  1. Evaluasi

Perawat: bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini?

Ibu:      saya merasa sedih sus melihat anak saya seperti ini.

Perawat: ’’Ibu yang sabar ya,saya akan berusaha membatu untuk kesembuhan anak ibu

Ibu: ya sus,terima kasih

Perawat: Apa pendapat ibu tentang anak Ibu?

Ibu:anak saya masih masih sering menyendiri dan berbicara sendiri tiba-tiba berteriak teriak..

Perawat:Jadi anak ibu halusinasinyabelum terkontrol ya bu?

Ibu:iya sus saya takutdengan kondisi anak kami yang seperti ini.

  1. Kontrak

Perawat:Hari ini kita akan berdiskusi tentang masalah apa yang anak bapak dan ibu alami dan bantuan apa yang bapak dan ibu bisa berikan’’

Ibu: iya sus…

Perwat: kita mau berdiskusi dimana bu?’’

Bagaimamna kalau diruang wawancara’’?

                        Ibu:iya sus..

                        Perawat: Berapa lama waktu bapak dan ibu untuk berdiskusi?

                        Ibu: Bagaimana kalau 15 menit saja sus

                        Perawat: baiklah ibu…

Mari kita menuju ruang wawancara

Perawat ,bapak dan ibu meninngalkan pasien diruangannya dan menuju ruang wawancara untuk mendiskusikan tentanghalusinasi dan cara caramerawat pasien halusinasi.

2.Kerja:

Perawat: silahkan duduk bapak dan ibu

Ibu dan bapak: iya sus…

Perawat: apa yang bapak /ibu rasakan menjadi maslah dalam merwat ’’W”?

Bapak: kami masih belum bisa menghadapi anak kami saat berbicara sendiri dan berteriak teriak sendiri.

Perawat: apa yang ibu / bapak lakukan?

Ibu: kami hanya bisa menyuruhnya diam dan mencoba menenangkan,tetapi anak kami tetap saja berteriak teriak dan marah marah sendiri

Perawat: ya , gejala yang dialami oleh anak bapak/ibu itu itu dinamakan halusinsi pendengaran ,yaitu mendengar sesuatu yang sebetulnya tidak ada yang berbicara.”tanda tandanya bicara dan tertawa sendiri atau marah marah tanpa sebab.jadi kalau anak bapak /ibu mendengar suara-suara,sebenarnya suara itu  tidak ada.

Ibu: ooo….jadi anak kami mengalami mengalami halusinasi pendengaran. Penyebabnya apa ya sus?

Perawat: Penyebabnya harga diri rendah bu. Anak ibu merasa harga dirinya rendah sehingga anak ibu menarik diri kemudian timbul halusinasi.

Ibu: Terus bagaimana cara mengatasinya sus?

Perawat:Ada beberapa cara untuk membantu anak Bapak/ibu agar bisa mengendalikan halusinasi.

Bapak: Apa cara-caranya sus?

Perawat : Cara-caranya tersebut antara lain :

            Pertama, dihadapan anak bapak/ibu, jangan membantah halusinasi atau mendukungnya. Katakan saja bapak/ibu percaya bahwa anak tersebut memang mendengar suara, tetapi bapak/ibu sendiri tidak mendengar suara apa-apa.

            Kedua, jangan biarkan anak bapak/ibu melamun dan sendiri, karena kalu melamun halusinasi akan muncul lagi. Upayakan ada orang mau bercakap-cakap dengannya. Buat kegiatan keluarga seperti makan bersama, sholat bersama-sam. Tentang kegiatan, saya telah melatih anak bapak/ibu untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Tolong bapak/ibu pantau pelaksanaannya. Yaa……dan berikan pujian jika dia lakukan! Apakah ibu mengerti?

Ibu : Iya sus saya mengerti, saya akan melakukan sesuai saran suster dan memantaunya.

Perawat : Cara yang ketiga yaitu bantu anak bapak/ibu minum obat secara teratur. Jadi bapak/ibu dapat mengingatkan kembali, ya bak/ibu…………..

Bapak : Iya sus, kami akan selalu mengingatkan anak kami agar selalu minum obat. Karena kami sangat mengharapkan anak kami cepat sembuh. Kami sangat sedih sekali dengan kondisi anak kami yang seperti ini. Oh ya sus, obatnya apa saja?

Perawat : Obatnya ada 3 macam, ini yang orange namanya CPZ gunanya untuk menghilangkaan suara-suara. Diminum 3x sehari pada jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam. Yang putih namanya THP gunanya membuat rileks, jam minumnya sama dengan CPZ tadi. Yang biru namanya HP gunanya menenangkan cara berfikir, jam minumnya sama dengan CPZ. Obatnya perlu selalu diminum untuk mencegah kekambuhannya pak/bu, apakah ibu dan bapak sudah mengerti?

Ibu : Iya sus, kami mengerti.

Perawat : Yang terakhir, bila ada tanda-tanda halusinasi mulai muncul, putus halusinasi anak bapak/ibu dengan cara menepuk punggung anak bapak/ibu.Suruhlah anak bapak/ibu menghardik suara tersebut. Anak bapak/ibu sudah saya ajarkan cara halusnasi.

3. Terminasi

  1. Evaluasi Subyektif

Perawat : “Bagaimana perasaan bapak/ibu setelah kita berdiskusi memutushalusinasi anak bapak/ibu

Ibu : Perasaan saya lebih baik dari sebelumnya, dan kekhawatiran saya menjadi berkurang karena sudah mengetahui cara-cara untuk memutus halusinasi ketika halusinasi anak kami muncul.

  1. Evaluasi Obyektif

Perawat : Sekarang coba bapak/ibu sebutkan kembali tiga cara merawat anak bapak/ibu untuk memutus halusinasi.

Bapak ; Yang pertama, tidak boleh membantah halusinasi atau mendukungnya. Mengatakan percaya memang anak mendengar suara, tetapi saya sendiri tidak mendengarnya. Kedua, tidak boleh mendengarkan anak melamun dan sendiri, mengupayakan ada orang mau bercakap-cakap dengannya, dan membuatkan jadwal kegiatan sehari-hari. Ketiga, membantu anak minum obat secara teratur.

Perawat : Bagus sekali, bapak/ibu telah memahaminya.

  1. Rencana tindak lanjut

Perawat : Nah……….bagaimana kalu bapak/ibu lakukan terus selama di RS agar nanti dirumah sudah lancar.

Ibu : Iya sus, akan kami lakukan terus selama di RS.

  1. Kontrak
  • Topik

Perawat : “Baiklah, waktu kita sudah habis, bagaimana kalau dua hari lagi kita bertemu untuk mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan anak bapak/ibu?”

Bapak : Iya sus, kami bersedia.

  • Tempat

Perawat : Tempatnya mau dimana pak/bu?

Ibu : Disini saja sus.

  • Waktu

Perawat : Mau jam berapa ?

Bapak : Jam 09.00 wib saja, seperti hari ini.

Perawat : Baiklah bapak/ibu sampai jumpa hari selasa.

Ibu : Iya sus, kalau begitu saya permisi dahulu. Assalamu’alaikum…………

Perawat : Wa’alaikumsalam………….

Setelah mengucapkan salam kepada perawat, bapak/ibu dari anak “W” meninggalkan ruang wawancara. Mereka terlihat lebih tenang. Dan kemudian mereka menuju ruang anak “W”. Untuk melakukan cara-cara yang telah diajarkan perawat.

 

“SEKIAN TERIMA KASIH”

 

 

 

 

 





Asuhan Keperawatan Gangguan Rasa Nyaman Nyeri

3 03 2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Pemenuhan kebutuhan rasa nyaman “nyeri” adalah bagian dari kebutuhan fisiologis menurut Hierzuki Maslow. Kebutuhan rasa nyman “nyeri” diperlukan untuk proses kehidupan.

Nyeri adalah suatu mekanisme nyeri proteksi bagi penderita yang timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri.

Masalah yang mempengaruhi nyeri diantaranya arti nyeri bagi bagi seseorang yang memiliki banyak perbedaan dan hampir sebagian arti nyeri merupakan arti yang negatif, seperti membahayakan, merusak, dan lain-lain. Keadaan ini mempengaruhi beberapa faktor seperti : usia, jenis kelamin, latar belakang sosial budaya, lingkungan dan pengalaman, toleransi. Nyeri juga berhubungan erat dengan intensitas nyeri yang apat mempengaruhi kemampuan seseorang menahan nyeri. Faktor yang mempengaruhi antara lain alkohol, obat-obatan, hipnotis, gesekan, pengalihan perhatian dan kepercayaan yang kuat.

Solusinya pemenuhan kebutuhan rasa nyaman ”nyeri” dalam pelayanan kesehatan keperawatan dapat di lakukan dengan pemberian obat analgesik dan sejenisnya.

 

1.2         Tujuan

1.2.1   Tujuan umum

Mahasiswa dapat melakukan asuhan keperawatan pada Tn. ”K” sesuai dengan manajemen keperawatan.

 

1.2.2   Tujuan khusus

Setelah dilakukan pengkajian terhadap Tn. “K” diharapkan mahasiswa dapat :

  1. Melakukan pengkajian data
  2. Intervensi data dasar
  3. Merencanakan suatu tindakan yang komprehensif
  4. Melakukan asuhan keperawatan sesuai rencana
  5. mengevaluasi hasil pelaksanaan Asuhan keperawatan.

 

1.3         Manfaat Penulisan

1.3.1   Bagi klien

Memberi informasi pada klien dan masyarakat tentang nyeri di bagian perut.

 

1.3.2   Bagi penulis

Mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan apa yang di dapat dalam perkuliahan.

 

1.3.3   Bagi institusi pendidikan

Sebagai bahan kepustakaan tentang asuhan keperawatan pada Tn. “K” dengan gangguan rasa nyaman “nyeri”.

 

1.3.4   Bagi lahan praktek

Memberikan masukan terhadap tenaga kesehatan untuk mempertahankan dan menguatkan serta meningkatkan asuhan keperawatan secara profesional agar terhindar dari komplikasi yang mungkin timbul.

 

1.4         Cara Pengumpulan Data

1.4.1   Wawancara

Pengumupulan data dengan tanya jawab langsung pada pasien.

 

1.4.2   Observasi

Pengambilan data dengan cara menilai dan memantau perkembangan klien secara langsung.

 

1.4.3   Study dokumentasi

Cara pengumpulan data dengan cara melihat buku rekam medik klien dan hasil pemeriksaan laboratorium seta pemeriksaan penunjang.

 

1.4.4   Study pustaka

Teori asuhan keperawatan dari buku-buku yang membahas masalah-masalah asuhan keperawatan.

 


BAB II

LAPORAN PENDAHULUAN

NYERI

 

2.1  Definisi

  • Mc. Ceffery (1979)

Mengidentifikasi nyeri sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang yang keberadaannya diketahui hanya jika orang tersebut pernah mengalaminya.

 

  • Wolf Waifsel Feusest (1974)

Mengatakan nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan.

 

  • Arthur C. Curfon (1983)

Mengatakan bahwa nyeri merupakan suatu mekanisme produksi bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang dirusak, dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan rasa nyeri.

 

  • Secara umum

Mengatakan nyeri sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut syaraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologi dan emosional.

(Hidayat Aziz, 2008, hal. 124)

 

2.2  Fisiologi Nyeri

Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan reseptor. Nyeri yang dimaksud adalah nocieptor , merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki nyelin yang terbesar pada kulit dan mukosa, khusunya pada persendian dinding arteri, ahti dan kandung empedu.

(Hidayat Aziz, 2008, hal. 121)

 

2.3  Klaisifikasi Nyeri

Klasifikasi nyeri dibagi menjadi 2 yakni nyeri akut dan nyeri kronis.

  1. Nyeri akut adalah nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang yang tidak memiliki atau melebihi 6 bulan dan ditandai adanya peningkatan tegangan otot.
  2. Nyeri kronis adalah nyeri yang timbul secara perlahan-lahan, biasanya berlangsung dalam waktu yang lama. Yang lebih dari 6 bulan, yang termasuk nyeri psikomatis. Dan ditinjau dari sifat terjadinya, nyeri dapat dibagi ke dalam beberapa kategori, diantaranya nyeri tersusun dan nyeri terbakar.
  3. Perbedaan nyeri akut dan kronis

No

Karakteristik

Nyeri Akut

Nyeri Kronis

1.

Pengalaman

Suatu kejadian

Situasi, status eksistensi

2.

 

Sebab eksternal atau penyakit dalam

Tidak di ketahui atau pengobatan terlalu lama

3.

Serangan

Mendadak

Bisa mendadak, berkembang, dan terselubung

4.

Waktu

Sampai 6 bulan

Lebih dari 6 bulan samai bertahun-tahun

5.

Pertanyaan nyeri

Daerah nyeri tidak di ketahui secara pasti

Daerah nyeri sulit dibedakan intensitasnya sehingga sulit di evaluasi (perubahan perasaan)

6.

Gejala klinis

Pola respon yang khas dengan gejala yang lebih terbatas

Pola respon yang bervariasi dengan sedikit gejala (adaptasi) berlangsung terus menerus

7.

Perjalanan

Biasanya berkurang beberapa saat

Penderita meningkat setelah beberapa saat

 

  1. Nyeri menghantar adalah nyeri yang terasa pda bagian tubuh yang lain. Umumnya terjadi akibat kerusakan pada bagian cidera organ.
  2. Nyeri psikogenerit adalah nyeri yang tidak dapat diketahui secara fisik  yang timbul akibat psikologis.
  3. Nyeri phantom adalah nyeri yang disebabkan karena salah satu ekstrimitas diamputasi.
  4. Nyeri neurologi adalah nyeri yang tajam karena adanya spasme di sepanjang atau di beberapa jalur syaraf.

(Hidayat Aziz, 2008, hal. 121)

 

 

2.4  Stimulus Nyeri

Seseorang dapat menoloransi, menahan nyeri (poin tolerance) atau dapat mengenai jumlah stimulus nyeri sebelum merasa nyeri (point treshold).

Beberapa jenis stimulasi nyeri di antaranya :

  • Trauma pada jaringan tubuh, misalnya karena bedah akibat terjadinya kerusakan pada jaringan dan iritasi secara langsung pada reseptor.
  • Gangguan pada jaringan tubuh, misalnya, karena adanya oedem akibat terjadinya penekanan pada reseptor nyeri.
  • Tumor dapat juga menekan reseptor nyeri.

(Hidayat Aziz, 2008, hal. 123)

 

2.5  Teori Nyeri

Terdapat beberapa teori tentang terjadinya rangsangan nyeri di antaranya (Barbara Clang, 1989).

  • Teori penusahan (specificity theory)

Rangsangan sakit masuk ke medulla spinalis (spinal coid) melalui corna dorsatis yang bersinaps di daerah posterior. Kemudian naik ke kontraktus dan menyilang di garis median ke sisi lainnya dan berakhirnya di konteks sensoris tempat rangsangan nyeri tersebut.

  • Teori pola (pattern theory)

Rangsangan nyeri masuk melalui akar ganglion dorsal ke medula spinalis dan merangsang aktivitas sel.

  • Teori pengendalian gerbang (gate control theory)

Nyeri tergantung dari kerja serat otot saraf besar dan kecil yang keduanya berada dalam akar ganglion dorsalis. Rangsangan pada serat syaraf besar akan meningkatkan aktifitas substansia gelatinosa yang mengakibatkan tertutupnya pintu mekanisme sehingga aktifitas sel terlambat dan menyebabkan hantaran rangsangan ikut terlambat.

  • Teori transmisi dan inhibisi

Adanya stimulasi pada noceciptor memulai transmisi impuls-impuls syarafi, sehingga transmisi impuls nyeri menjadi efektif oleh neureurotranmitter yang spesifik, kemudian inhibisi impul nyeri menjadi efektif oleh impuls-impuls pada serabut lamban dan endogen opiate sistem supresif.

(Hidayat, Aziz, 2008, hal. 124)

 

 

2.6  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri

Pengalaman nyeri pada seseorang dapat di pengaruhi oleh beberapa hal diantaranya :

  • Artisi nyeri bagi seseorang memiliki banyak perbedaan dan hampir sebagian arti nyeri tersebut merupakan arti yang negatif. Seperti membahayakan, merusak dan lain-lain. Keadaan ini mempengaruhi oleh beberapa faktor seperti : usia, jenis kelamin, latar belakang sosial budaya, lingkungan dan pengalaman.
  • Persis nyeri, merupakan penilaian yang sangat subyektif tempatnya pada konteks.
  • Toleransi nyeri, toleransi ini erat hubungannya dengan intensitas nyeri yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang menahan nyeri.

Faktor yang mempengaruhi antara lain : alkohol, obat-obatan, hipnotis, gesekan, pengalihan perhatian, kepercayaan yang kuat.

  • Reaksi terhadap nyeri merupakan bentuk respon seseorang terhadap nyeri seperti: nyeri tingkat persepsi, nyeri pengalaman masa lalu, nilai budaya, harapan sosial kesehatan fisik dan mental.

(Hidayat, Aziz, 2008, hal. 124)

 

2.7  SUMBER NYERI

  1. Cutaneous / superfisial yang meliputi struktur pada kulit dan jaringan subcutan.
  2. Viseral yang meliputi organ-organ yang berada dalam rangga tubuh.
  3. Deep srematik yang meliputi tulang otot syaraf dan jaringan-jaringan yang menyokong.

(Smellchzer, S.C. Bare. B.G. 2006)

 

  • UPAYA MENGATASI NYERI
  1. Distraksi à mengalihkan perhatian

Misalnya : nonton TV, baca majalah, mengajak bicara pasien.

  1. Relaksasi à nafas dalam, kompres, message
  2. Akupuntur à tusuk jarum pada daerah nyeri
  3. Hipnosa à teknik membuat orang tidak sadar diri
  4. Analgesik à mengurangi persepsi tentang nyeri
  5. Daya kerja à sistem syaraf sentral

 

 

 

  • TINGKAT NYERI
  1. Menurut Kozier

0                 à tidak nyeri

1, 2, 3, 4     à ringan

5, 6             à sedang

7, 8, 9         à berat

10               à sangat

  1. Menurut Meizak dan Rogerson (1991)

1          à tidak nyeri

2          à ringan

3          à tidak nyaman

4          à Distressing

5          à Novible (berat)

6          à exeros clating (sangat berat)

  1. Menurut Maxwell (1989)

1          à tidak nyeri

2          à ringan

3          à sedang

4          à berat

  1. Menurut Mc Gill (Mc Gill scale)

 

0

 

5

 

4

 

3

 

1

 

2

 

     

Keterangan :

1          : tidak nyeri

2          : nyeri ringan

3          : nyeri sedang

4          : nyeri berat

5          : nyeri sangat berat

6          : nyeri hebat

(Wahid Iqbal Mubarok, SKM, 2008, 213)

 


2.8  ETIOLOGI

  1. Trauma
    1. Mekanik   (tergesek, terpotong, terpukul, tertusuk)
    2. Thermis     (panas dan dingin)
    3. Chemis     (zat kimia bersifat asam dan baja serta iritasi dan korosif lainnya)
    4. Elektris     (listrik)
    5. Peradangan (inflamasi)

Nyeri disebabkan oleh pembengkakan à meregang syaraf dan pelepasan mediator kimia.

  1. Trauma Psikologis

Keluhan yang berhubungan dengan psikologis

  1. Gangguan sirkulasi

Terjadi penyempitan / penyumbatan pada saluran tubuh

  1. Neuplasma

Jinak à nyeri tidak ada ujung reseptor

Misalnya : tumor

 

2.9  GEJALA KLINIS

  1. Respon Simpatis
  • Peningkatan tekanan darah
  • Peningkatan suhu
  • Peningkatan respirasi
  1. Respon muskular
  • Gelisah
  • Meraba
  • Membatasi respirasi
  1. Respon emosional
  • Perubahan perilaku
  • Iritable, merintih dan menangis
  • Ekspresi wajah : menyeringai, masalah

 

ASUHAN KEPERAWATAN MASALAH NYERI

 

  1. Pengkajian
  • Pengumpulan Data
  1. Keluhan utama
  • Keluhan yang paling dirasakan klien
    • Klien mengatakan nyeri
      • P    : Paliatif     : Faktor yang mempengaruhi gawat atau ringannya nyeri
      • Q   : Qualitatif :  Seperti apa, tajam, tumpul, atau tersayat
      • R    : Regio       :  Daerah perjalan nyeri
      • S    : Severe      :  Keparahan atau intensitas nyeri
      • T    : Time         :  Lama waktu serangan atau frequensi nyeri

 

  1. Pemeriksaan fisik
  • Tanda-tanda vital    : Tekanan darah, nadi, pernafasan
  • Perilaku                   : Meletakkan tangan di paha, tungkai, dan paha flexi
  • Expresi wajah

 

 

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

 

  1. Nyeri kronik yang berhubungan dengan invasi jaringan akibat kanker abdomen
    1. I  :  Implementasi penatalaksanaan obat dengan fentanya transdermi

Jelaskan pada pasien dan pasangannya tentang efek samping yang diharapkan, jadwal penggantian patah, metode penanganan cara pemecahan untuk nyeri aktif.

R :  Obat transdermal menghindari absorbsi gastrointestinal. Obat ini diindikasikan bagi klien yang mengalami nyeri yang konstan (Joko dkk, 1994)

  1. I  :  Ajarkan pasangan klien untuk melakukan massage punggung dengan usapan lembut.

R :  Massage punggung dengan usapan lembut dan upaya yang mudah dilakukan, memakan aktu yang singkat dan telah terbukti menyebabkan relaksasi (Meck, 1993).

 

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan stress
    1. I  :  Teliti keluhan nyeri catat skala nyerinya, lokasi dan lamanya 

R :  Nyeri merupakan pengalaman subyektif dan harus dijelaskan oleh pasien untuk mengevaluasi keefektifan dan terapi yang diberikan.

  1. I  :  Catat kemungkinan patofisiologis yang khas, misalnya Hipertensi

R :  Pemahaman terhadap keadaan penyakit yang mendasarinya membantu dalam memilih intervensi yang sesuai

  1. I  :  Anjurkan pasien untuk beristirahat

R :  Menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi ketegangan

 

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan penyempitan pembuluh darah.
    1. I  :  Lakukan pendekatan dengan klien dan keluarga

R :  Klien dan keluarga kooperatif dalam tindakan keperawatan

  1. I  :  Kaji tingkat nyeri

R :  Melakukan tingkat nyeri dan untuk menentukan tindakan selanjutnya

  1. I  :  Ciptakan lingkungan yang nyaman

R :  Memberikan ketenangan pada pasien

  1. I  :  Kolaborasi dengan tim medis

R :  Untuk mengurangi rangsangan nyeri

 

  1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan
    1. I  :  Lakukan pendekatan dengan pasien dan keluarga

R :  Agar pasien dan keluarganya lebih kooperatif dalam tindakan keperawatan

  1. I  :  Kaji tingkat nyeri

R :  Untuk mengetahui tingkat nyeri

  1. I  :  Menciptakan lingkungan yang nyaman

R :  Untuk memberikan ketenangan kepada pasien

  1. I  :  Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi

R :  Untuk mengurangi rasa nyeri

  1. I  :  Kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan analgesik

R :  Untuk mengurangi rasa nyeri

 

KRITERIA EVALUASI

Evaluasi terhadap masalah nyeri dilakukan dengan menilai kemampuan dalam merespon rangsangan nyeri diantaranya :

  • Hilangnya perasaan nyeri
  • Menurunnya intensitas nyeri
  • Adanya respon fisiologis yang baik
  • Pasien mampu melakukan aktifitas sehari-hari tanpa keluhan nyeri

 

 

 BAB III

TINJAUAN KASUS

 

  1. I.              PENGKAJIAN

Tanggal MRS         :     24 Juli 2010      jam 12.30 WIB

Tanggal pengkajian       :            26 Juli 2010     jam 11.30 WIB

 

  1. Data Subyektif
    1. Identitas  Pasien

Nama                         : Tn. ”K”

Umur                          : 49 tahun

Jenis Kelamin             : Laki-laki

Agama                       : Islam

Status Marital            : Menikah

Suku Bangsa              : Indonesia / Jawa

Alamat                       : Betek Mojoagung

Pekerjaan                   : Swasta

 

  1. Penanggung Jawab   

Nama                         : Ny. ”K”

Umur                          : 45 tahun

Jenis Kelamin             : Perempuan

Agama                       : Islam

Status                         : Istri

Pekerjaan                   : Swasta

 

  1. Keluhan Utama

Pasien mengatakan nyeri di bagian perut bawah sebelah kanan

 

  1. Riwayat Kesehatan
    1. Riwayat Kesehatan Sekarang

Pasien mengatakan sakit perut karena kurang nafsu makan, sakitnya seperti di tusuk-tusuk. Pasien sakit perut di sebelah kanan bagian bawah, skala nyeri menurut Maxwell 3, nyeri pasien bertambah, sehingga pada tanggal 24 Juli 2010 pada jam 12.30 WIB pasien dibawa ke RSUD Jombang.

 

 

  1. Riwayat Kesehatan yang Lalu

Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular, menurun dan menahun.

 

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu psaien mengatakan keluarganya tidak pernah menderita penyakit menurun dan menular dalam keluarga.

 

  1. Data Obyektif
    1. K/U             : Lemah

Kesadaran   : Composmentis

  1. TTV

TD    : 130/90 mmHg

N       : 82 x/menit

D       : 36,5 oC

RR    : 24 x/menit

  1. Riwayat kesehatan sekarang

P     : Banyaknya aktivitas, kurangnya istirahat

Q    : Tersayat

R    : Kepala

S     : Berat (8-9)

T     : Lama nyeri 3 hari

 

  1. Pemeriksaan fisik (Head to too)
    1. Kepala

Inspeksi   :  Bentuk simetris, rambut hitam, tidak ada benjolan

Palpasi     :  Tidak ada nyeri tekan dan tidak ada benjolan

  1. Mata

Inspeksi   :  Simetris, conjungtiva pucat, mata gawong, sklera merah

  1. Hidung

Inspeksi   :  Simetris, tidak ada sekret, tidak ada polip

  1. Mulut

Inspeksi   :  Bibir kering, gigi agak kotor, mulut bau dan tidak ada gigi palsu

  1. Telinga

Inspeksi   :  Simetris, tidak ada serumen, tidak ada gangguan pendengaran, tidak ada alat bantu pendengaran

  1. Leher

Inspeksi   :  Tidak ada odema, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid

  1. Dada

Inspeksi      :  Simetris, tidak ada benjolan

Palpasi        : Tidak ada oedema, ada nyeri tekan bagian tengah

Auskultasi   :  Tidak ada wheezing dan ronchi, pernafasan vesikuler normal (24 x/menit)

Perkusi        :  Suara dada sonar

  1. Abdomen

Inspeksi      :  Tidak ada benjolan, tidak ada lesi (luka)

Auskultasi  : Bising  usus normal (30 x/menit)

Palpasi        :  Turgor kulit, abdomen lunak, ada nyeri tekan

Perkusi        :  ± ympani

  1. Genetalia

Inspeksi      :  Tidak terpasang kateter, bersih

  1. Integumen

Inspeksi      :  Warna sawo matang, kering, kurang bersih

Palpasi        :  Tidak ada odema, turgor kulit normal

  1. Ekstremitas

Ekstremitas Atas

Inspeksi   :  Simetris, tidak ada odema, terpasang infus di tangan kanan (infus Rl dengan 7 tetes/menit)

Ekstremitas Bawah

Inspeksi   :  Simetris, tidak ada odema, tidak ada kelumpuhan

Perkusi    : Reflek patella (+/+)

Kekuatan Otot

AKA

5

AKI

5

5

BKA

5

BKI

Keterangan :

AKA   : Atas Kanan,              BKA : Bawah Kanan

AKI     : Atas Kiri,                  BKI   : Bawah Kiri

  1. Tidak dapat mengangkat sama sekali
  2. Dapat mengangkat, tapi tidak begitu tinggi
  3. Dapat mengangkat, tetapi tidak dapat menahan beban
  4. Dapat mengangkat, dapat menahan beban harus di sanggah
  5. Dapat mengangkat dan dapat menahan beban yang ada
    1. Pola fungsi kesehatan
      1. Persepsi terhadap kesehatan
  • Pemakai rokok / tembakau

Pasien mengatakan bahwa pasien tidak pernah merokok

  • Pemakai alkohol

Pasien mengatakan bahwa pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang

  • Pola makan yang di sukai, pantangan, dan tidak di sukai pasien

 

  1. Pola aktifitas dan latihan

AKTIVITAS

Di rumah

Di rumah sakit

skor

skor

0

1

2

3

4

0

1

2

3

4

Mandi

Ö

 

 

 

 

 

Ö

 

 

 

Berpakaian

Ö

 

 

 

 

 

Ö

 

 

 

Berdandan

Ö

 

 

 

 

 

Ö

 

 

 

Mobilisasi ditempat tidur

Ö

 

 

 

 

 

 

Ö

 

 

Pindah

Ö

 

 

 

 

 

 

Ö

 

 

Merapikan tempat tidur

Ö

 

 

 

 

 

 

Ö

 

 

Keterangan :

0 : mandiri

1 : dibantu sebagian

2 : perlu bantuan orang lain

3 : perlu bantuan orang lain dan alat

4 : bergantung dan tidak mampu

 

  1. Pola istirahat dan tidur

Di rumah           :  Siang + 2 jam, dengan kualitas tidur cukup nyenyak

Malam + 6-7 jam, dengan kualitas tidur cukup nyenyak.

Di rumah sakit :  Tidak tentu, karena pasien di rumah sakit merasa nyeri perut bagian bawah sebelah kanan, sehingga pasien di rumah sakit merasa teranggu, kualitas tidur berkurang dari pada di rumah

 

 

  1. Pola nutrisi

Di rumah           :  Makan 3 x/hari, porsi sedang (nasi, lauk, sayur)

Minum 6 – 7 gelas/hari (air putih)

Di rumah sakit :  Makan 2 semdok sering mungkin selama 1 hari (bubur halus, sayur, daging)

Minum 6 – 7 gelas/hari air putih

 

  1. Pola eliminasi

Di rumah           :  BAK : 5 – 6 x/hari, warna kuning, agak keruh dan bau khas

BAB :  3 x/hari, warna kuning, lembek dan bau khas

Di rumah sakit :  BAK : 4 x/hari (warna kuning dan bau khas)

BAB : 3 x/hari (warna kuning, lembek dan bau khas)

 

  1. Personal Hygiene

Di rumah           :  Mandi 2 x/hari, gosok gigi 2 x/hari, keramas 1 x/3 hari, ganti baju dalam dan pakaian 1 x 2 hari

Di rumah sakit :  Belum pernah mandi, hanya diseka pagi dan sore hari (hanya bagian luar) sampai dengan (kaki dan wajah) belum pernah gosok gigi dan keramas, ganti pakaian 1 x/hari

 

  1. Keadaan Spiritual

Pasien mengatakan selalu berdoa agar cepat sembuh

 

  1. Keadaan Psikososial

Pasien mengatakan merasa gelisah dengan keadaan sekarang

 

  1. Keadaan Sosial dan Budaya

Pasien mengatakan hubungan dengan keluarga dan tetangga baik

 

  1. Data Penunjang
  • Hasil Laboratorium

HEMATOLOGI

HASIL

NILAI NORMAL

CELL DYN

-    Hemoglobin

-    Leukosit

-    Hematokrit

-    Eritrosit

-    Trombosit

LED

KIMIA KLINIK

-    Glukosa sewaktu

-    Billirubin T

-    Billrubin D

-    SGOT

-    SGPT

-    Kreatinin serum

-    Urea

-    Asam urat

IMUNOLOGI

-    HBS Ag (RPHA)

-    Anti HBS (RPHA)

-     

-    10,4

-    7.000

-    34,8

-    4.260.000

-    466.000

-    29/53

 

-    116

-    0,93

-    0,37

-    68

-    29

-    1,17

-    16,5

-    5,37

 

-    Positif

-    Negatif

 

-    11,4 – 17,7 g/dl

-    4.700 – 10.300 /cmm

-    37 – 48 %

-    L : 4,5 – 5,5 / P : 4 -5 jt/ul

-    150.000 – 350.000 / cmm

-    0 – 20 /jam

 

-    < 140 mg/dl

-    0,3 – 1,0 mg/dl

-    < 0,25 ng/dl

-    < 38 u/l

-    40 u/l

-    L < 1,5; P < 1,2 mg/dl

-    10 – 50 mg/dl

-    3,6 – 7,0 mg/dl

 

 

 

 

 

  • Terapi pengobatan

-          Infus Rl di tangan kiri (7 tetes/menit)

-          Ranitidin              2 x 1 (1 ampul)

-          Acran                   3 x 1 (1 ampul)

-          Hepa Q                3 x sehari

-          Cefotaximo          3 x 1 (1 ampul)

-          Myamit                3 x 1 tablet/oral

 

  1. II.           ANALISIS DATA

 

Data

Etiologi

Masalah

Ds  :  Pasien mengatakan nyeri bagian bawah sebelah kanan

Do :  kesadaran composmentis

K/U lemah

TTV : TD : 120/80 mmHg

         : N   : 85 x/menit

           S    : 37,3 oC

           RR : 24 x/menit

Pemeriksaan fisik

Mata    : conjungtiva pucat

Cornea : bintik-bintik

Mulut   : mukosa bibir kering

-       Terpasang infus Rl di tangan  kanan

-       Pola nutrisi

Makan : ± 2 sendok/sehari

Minum : 6-7 gelas/sehari

-       Hasil laboratorium Hemoglobin 10,4

Pembesaran hepar yang mendesak organ lain

Gangguan rasa nyaman ”nyeri”

 

 

 

  1. III.        RENCANA KEPERAWATAN

Nama                         : Tn. ”K”

Dx Keperawatan

PERENCANAAN

RASIONAL

TUJUAN DAN KRITERIA

INTERVENSI

Gangguan rasa nyaman “nyeri” ditandai dengan

Dx :  pasien megatakan nyeri pada perut bawah bagian kanan

Do :  K/U lemah

-    Wajah pasien menyeringai

-    Ada nyeri tekan pada perut bagian kanan bawah

-    Sklera kuning

-    Abdomen kembung

-    Perut bagian kanan sedikit membesar

-    Skala nyeri 3 maxwell

-    Kuku kuning

-    Pasien memgangi perutnya

TTV : TD : 120/80 mmHg

         : N   : 85 x/menit

           RR : 20 x/menit

           S    : 37,5 oC

        

 

Setelah di lakukan tindakan 3 x 24 jam diharapkan gangguan rasa nyaman (nyeri) dapat berkurang dengan kriteria

-          pasien mengatakan nyerinya berkurang

-          ekspresi wajah pasien tenang tidak meringis kesakitan

-          skala nyeri 1 (maxwell)

-          pasien dalam keadaan tenang

-          keadaan umum pasien membaik

  1. HE (health education)

-      lakukan pendekatan dengan pasien dan keluarganya

-      jelaskan tentang penyakit yang diderita pasien

  1. Tindakan mandiri

-      Ajarkan keluarga pasien dikompres perutnya dengan air hangat

-      Ajarkan pasien untuk latihan dengan teknik distraksi

-      Memposisikan pasien senyaman mungkin

  1. Observasi

-      Observasi TTV

-      Skala nyeri

  1. kolaborasi dengan tim medis

 

  1. Respon pasien lebih terbuka dan menerima dengan baik

-      Pasien lebih tenang dengan penjelasan perawat

  1. Mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien

-      Pasien perhatiannya tidak terfokus pada nyeri yang dialami pasien

-      Memberi kenyamanan bagi pasien untuk beristirahat

  1. - mengetahui perkembangan setiap harinya

-      Mengetahui seberapa nyeri  yang dialami pasien

  1. pemberian obat yang tepat diharapkan dapat mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien
  2. Menjaga kebersihan tubuh pasien
  3. meningkatkan pengetahuan dan membuat pasien kooperatif

 

 

 

  1. IV.        IMPLEMENTASI

Nama      : Tn. ”K”

Masalah : gangguan rasa nyaman ”nyeri” pada perut bagian bawah sebelah kanan

Tanggal

Jam

No

Action

Respon

26 Juli 2010

14.00

1

Melakukan pendekatan pada pasien dan keluarga dengan cara 3S (senyum, sapa, sentuh)

1. keluarga pasien dan pasien ramah serta kooperatif

14.30

2

Melakukan tindakan TTV dengan hasil :

TD : 120/80 mmHg

N    : 75 x/menit

S     : 36,5 oC

RR  : 24 x/menit

2. pasien bersedia untuk diperika dan kooperatif

14.40

3

Melakukan monitoring terhadap nutrisi yang dibutuhkan oleh pasien

3. pasien memperhatikan dan mau bekerja sama dengan perawat

14.45

4

Membantu pasien dalam kebersihan badan, mulut, rambut dan kuku

4. keluarga pasien bersedia menceritakan makanan yang dikonsumsi oleh pasien baik di rumah maupun di rumah sakit

15.00

5

Membantu pasien makan dalam jumlah sedikit tapi sering

5. pasien bersedia dan memperhatikan perawat

15.15

6

Memberitahu pasien untuk istirahat yang cukup

6. pasien kooperatif dan memenuhi permintaan perawat

 

15.30

7

Memberikan dan menyiapkan terapi obat sesuai advis dokter / tim medis

-      Ranitidin     1×1 gr(Inj.) 1 ampul

-      Acran          1×1 gr(Inj.) 1 ampul

-      Infus Rl 7 tetes/menit

-      Cefotaxime 3×1 gr tablet oral

-      Caprob        2×1 ampul/IV drip

-      Tomit          2×1 ampul/IV drip

7. pasien merasa tenang dan kooperatif

 

 

Tanggal

Jam

No

Action

Respon

27 Juli 2010

07.00

1

Melakukan pendekatan pada pasien dan keluarga dengan cara 3S

1. pasien dan keluarga kooperatif

08.00

2

Melakukan observasi TTV :

TD : 130/90 mmHg

S     : 37 oC

N    : 82 x/menit

RR  : 24 x/menit

2. pasien bersedia diperika dan kooperatif

08.15

3

Melakukan dan merapikan tempat tidur pasien

3. pasien merasa nyaman dan rileks  

08.30

4

Menyajikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering

4. pasien bersedia dan bekerja sama dengan baik serta keluarga

09.00

5

Menyiapkan dan memberi obat sesuai tetapi tim medis yaitu

Acran 1×1 gram (inj) 1 ampul

Ranitidin 1×1 gram (inj) 1 ampul

5. pasien kooperatif dan merasa nyaman

09.30

6

Memberitahu pasien untuk istirahat yang cukup

6. pasien kooperatif

 

  1. V.           CATATAN PERKEMBANGAN

Nama : Tn. “K”

No

Tanggal

Dx keperawatan

Perkembangan

1

26-07-2010

Gangguan rasa nyaman “nyeri”

S    :  pasien mengatakan nyeri pada perut

O   :  K/U lemah

Kesadaran komposmentis

TTV :

TD : 120/90 mmHg

N   : 79 x/menit

RR : 24 x/menit

S    : 36,5 oC

Terpasang infus Rl dan transfusi porsi makan : 2 sendok sesering mungkin

A   :  masalah teratasi sebagian

P    :  intervensi dilanjutkan

- Mengkaji skala nyeri

- Observasi TTV

- Laksankan program pengobatan

- Acran 3×1 gr

- Ranitidin 2×1 gram (1 inj)

2

27-07-2010

Gangguan rasa nyaman “nyeri”

S    :  pasien mengatakan nyeri berkurang

O   :  K/U lemah

Kesadaran komposmentis

TTV :

TD : 110/80 mmHg

N   : 80 x/menit

S    : 36 oC

RR : 22 x/menit

A   :  masalah teratasi sebagian

P    :  intervensi dilanjutkan

- Mengkaji skala nyeri

- Observasi TTV

- Laksankan program pengobatan

- Ranitidin 3×1 gram (1 inj)

- Acran 3×1 gr

- terpasang infus Rl saja porsi makan 2 sendok tapi sering

3

28-07-2010

Gangguan rasa nyaman “nyeri”

S    :  pasien mengatakan nyeri berkurang, nafsu makan bertambah sedikit

O   :  K/U lemah

Kesadaran komposmentis

TTV :

TD : 130/90 mmHg

S    : 37 oC

N   : 80 x/menit

RR : 20 x/menit

A   :  masalah teratasi sebagian

P    :  intervensi dilanjutkan

- Mengkaji skala nyeri

- Observasi TTV

- Laksankan pengobatan

- Acran 3×1 gram (injk)

- Ranitidin 2×1 gram (injk)

- Deksal 2×1 gram (injk)

4

29-07-2010

Gangguan rasa nyaman “nyeri”

S    :  pasien mengatakan nyeri berkurang, nafsu makan bertambah sedikit

O   :  K/U membaik

Kesadaran komposmentis

TTV :

TD : 120/90 mmHg

N   : 78 x/menit

S    : 37 oC

RR : 24 x/menit

Terpasang infus RL porsi makan sudah banyak

A   :  masalah teratasi sebagian

P    :  intervensi dilanjutkan

- Mengkaji status nyeri

- Observasi TTV

- Laksankan pengobatan

- Acran 3×1 gram (injk)

- Ranitidin 2×1 gram (injk)


  1. VI.             EVALUASI

 

No

Tanggal / Jam

Diagnosis Keperawatan

Evaluasi

1

29 Juli 2010

 

Gangguan rasa nyaman “nyeri”

S   :  Pasien mengatakan nyerinya sudah berkurang

O  :  Keadaan umum : lemah

Kesadaran composmentis

GCS : 4, 5, 6

Tanda-Tanda Vital

TD    : 130/90 mmHg

S       : 37 oC

N      : 80 x/menit

RR    : 24 x/menit

A  :  masalah teratasi

P   :  intervensi dihentikan pasien pulang

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Aziz, Alimul Hidayat , S.Kep., 2006 : 218

Aziz, Alimul Hidayat, 2008 : 1

Sudoyo WA, Setyo Hadi B, Alwi I, dkk. Ilmu Penyakit dalam Edisi Ke-5, Jakarta Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam 2009

Djojobiroto Dr. Respirologi  Jakarta DE, 2007 : 64 – 68)

Price, Sylvia Anderson dan Loraine MW, Patofisiologi Vol. I Edisi 6, Jakarta : EGC, 2005





TIPS SUKSES MENJADI MAHASISWA

23 02 2012

Gambar Saat pertama kali masuk kuliah, perasaan kaget serta terasingkan karena suasana dan metode pembelajaran yang berbeda dengan sekolah. Akibatnya para mahasiswa sering kerap kali meyepelekan kuliah. Ada beberapa cara untuk mengatasi hal-hal tersebut, agar kita sukses atau berhasil menjadi mahasiswa maju. Berikut cara sukses menjadi mahasiswa maju.

Jadilah mahasiswa yang aktif.

Setiap mahasiswa diharuskan untuk bersikap proaktif dengan cara atau sikap, tidak meyepelakan tugas, datang kuliah tepat waktu, mengjukan diri pada dosen apabila diminta bantuan atau semacamnya. Cara atau sikap-sikap tersebut sangat dibutuhkan untuk mahasiswa baru dan apabila dibiasakan sejak awal kuliah, akan membuat mental anda terbiasa dengan sikap proaktif.

Perluas jaringan pertemanan.

Kenalilah lingkungan sekitar kampus dan perluaslah jaringan pertemanan, mulai dari teman seangkatan dan senior-senior. Peran teman terutama senior sangat berguna untuk anda kelak, seperti ketika anda lulus nanti peran kakak senior akan sangat dibutuhkan terutama dalam mencari pekerjaan.

Dekati dosen.

Dekat dengan dosen akan membantu anda dalam perkuliahan. Kedekatan anda dengan dosen akan sangat berguna ketika masuk masa skripsi dan pasca lulus kuliah. Mungkin dengan anda dekat sama dosen, anda akan ditawari untuk menjadi asdosnya setelah lulus nanti.

Sering-sering ke perpus.

Sering-sering ke perpus, walaupun hanya membaca buku-buku yang ringan, yang tidak ada kaitannya dengan mata kuliah. Hal dapat membantu anda terbiasa dengan suasana perpus, sehingga akan berguna kelak ketika anda mulai mendapatkan tugas-tugas kuliah.

Asa kemampuan berorganisasi.

Berorganisasi dapat mempertajam kemampuan anda dalam berorganisasi, serta mengembangkan jiwa kepemimpinan anda. Selain itu, beberapa HRD perusahaan juga memberikan poin khusus bagi pelamar yang memiliki pengalaman berorganisasi. Mereka menilai bahwa pelamar akan lebih mudah berorganisasi diperusahaan dan juga berpotensi untuk menjadi pemimpin.

Pengembangan diri.

Manfaatkan setiap waktu luang anda, jangan membuang waktu luang anda dengan hal-hal yang kurang berguna untuk anda. Gunakanlah watu luang tersebut untuk pengembangan diri anda, seperti mengikuti kursus bahasa, komputer, dan sebagainya.

Sidejob.

Biasanya dipertengahan kuliah atau diakhir kuliah banyak waktu luang, karena jadwal kuliah yang tidak terlalu padat. Manfaatkan waktu luang tersebut dengan kegiatan yang menghasilkan, carilah sidejob untuk menambah uang saku atau untuk mengurangi beban orang tua dalam membayar biaya kuliah. Selain itu, sidejob juga membantu anda untuk menambah pengalaman kerja.

Berwirausahalah.

Asa kemampuan berwirausaha sejak menjadi mahasiswa agar jadi mahasiswa maju, dengan begitu kemampuan anda dalam menjalankan bisnis atau berwirausaha akan berguana kelak ketika lulus nanti. Dan juga anda akan lebih mahir berwirausaha dibandingkan dengan teman-teman anda. Beasiswa luar negeri. Coba untuk memperoleh beasiswa luar negeri. Dengan memperoleh beasiswa luar negeri banyak manfaat yang akan anda dapatkan, seperti mengasa kemampuan bahasa asing anda, menambah wawasan, dan menambah ilmu akademik. Selain itu, keuntungan lain yang didapat adalah ketika anda lulus nanti, ketika anda melamar pekerjaan diperusahaan asing atau swasta, anda akan mendapatkan perhatian khusus dan akan lebih memprioritaskan anda.

Pacaran.

Kuliah nggak pacaran sama aja bohong. Tidak ada salahnya menjalin kasih saat kuliah, asalakan bisa mengatur waktu dengan baik. Bersikaplah dewasa, tinggalkanlah sifat-sifat sewaktu di SMA, pakailah pakaian yang bersih dan wangi, hal-hal tersebut akan membantu anda untuk mendapatkan pasangan. Jangan bidang akademis aja yang bagus, non-akademis juga harus oke.

 

Read more at http://uniqpost.com/20759/cara-sukses-menjadi-mahasiswa-baru/





Hello world!

23 02 2012

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.







Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.